Monday, August 07, 2006

Maybe you’ve thought that tempeh is just an ordinary bean food. But have you ever thought making one?

Making tempeh in Indonesia, from which tempeh is originated, won’t come across many problems. This is because the weather there is always warm during the whole year, which helps the fermentation process of tempeh.

But in a four season country like Germany, making tempeh is not that easy. The temperature is not stable. This disturbs the tempeh’s fermentation process.

Tempeh’s fermentation can fail under non ideal temperature. The ideal temperature is about 30º - 33ºC. Tempeh’s fermentation will fail if it is too hot or too cool.

Although a tempeh maker may already have made many successful tempeh, failure can sometimes still happen. The main reason of the failure is because the changes of the temperature is not well-anticipated.

We can thus say that in making a tempeh, besides you have to be careful in soaking, cooking, and washing beans, you also have to take care of the tempeh’s fermentation. Otherwise failure may not be avoided.

Therefore, it’s normal that tempeh’s price in four season countries is more expensive than rice or even meat. Its risky and difficult making multiplies its price. If tempeh makers have had a method to anticipate and overcome the problems that can cause failures, then the tempeh’s price would possibly be cheaper than before.

------------------------------------------------------------

Membuat Tempe Itu Tak Mudah

Mungkin anda berpikir, tempe hanyalah makanan biasa yang terbuat dari kedelai. Tapi, pernahkah anda berpikir bagaimana sih seluk-beluk membuat tempe?

Membuat tempe di Indonesia, mungkin tak banyak mengalami kendala. Suhu di Indonesia yang sepanjang tahun selalu hangat sangat membantu proses fermentasi selama berlangsungnya proses pembuatan tempe.

Tapi ketika hidup di negara empat musim seperti halnya Jerman, proses pembuatan tempe menjadi tak semudah yang dibayangkan. Suhu yang berubah-ubah dan seringkali tidak stabil kadangkala mengganggu proses fermentasi tempe.

Proses pembuatan tempe bisa gagal, jika suhu yang diharapkan (yakni antara 30º s.d 33º C) tidak tercapai. Tempe akan gagal berfermentasi dengan sempurna jika suhu di sekitarnya terlalu dingin (misalnya: saat winter) atau terlalu panas (misalnya: saat puncak summer) dibandingkan suhu yang diharapkan. Meski telah serngkali berhasil membuat tempe, tak jarang kegagalan pun dialami oleh para pembuat tempe. Saat suhu berubah dari hari-hari sebelumnya dan kurangnya antisipasi atas perubahan suhu itu sendiri, merupakan faktor utama kegagalan tersebut.

Dari situ bisa disimpulkan bahwa selain harus telaten dan hati-hati pada saat proses pengolahan kedelai, proses fermentasi pasca pengolahan pun harus diperhatikan. Jika tidak, kegagalanlah yang akan ditemui oleh para pembuat tempe.

Nah, jadi wajar kalau harga tempe di negara empat musim menjadi lebih mahal dibandingkan dengan harga beras atau daging. Proses pembuatannya yang beresiko dan tidak mudah itulah yang menjadikan harganya berlipat. Jika pembuat tempe telah memiliki teknologi untuk mengatasi dan mengantisipasi kegagalan, bisa jadi harga tempe menjadi lebih murah.

 
posted by taschan food at 1:45 PM |